Merawat vs Membeli
![]() |
| grafis.aw |
Pagi yang indah ini –setelah jamaah Subuh Kamis (26/02/26), saya gunakan untuk membersihkan laptop dari debu. Sisa debu yang menempel di layar, lalu pada sela-sela keyboard, saya bersihkan pakai kuas halus dan lembut.
Sementara perihal chasing-nya, saya lap dengan kanebo yang lembab. Alhamdulillah, debu-debu yang menempel, lalu sisa minyak saat kita makan gorengan yang membuat kehitam-hitaman dan kasar di tangan, hilang.
Kita sangat bisa membeli ini-ini, itu-itu, tetapi setelah numpuk lupa terawat. Jika itu terjadi, kita seperti tidak mengakui itu barang kita.
Padahal, sudah dibeli seiring dengan kemudahan online shop (olshop). Alhasil, keawetan atau meminjam istilah Jawa “genjeh” akanlah terwujud.
Tidak Syukur
Kala kita memiliki seabreg property, lalu luput tidak merawat, dalam istilah saya kita seperti tidak bersyukur.
Padahal dengan merawat, itu bentuk kita menghargai barang yang dibeli, serta sesuatu yang diinginkan. Namun setelah giliran dipunya, lupa merawat hingga cepat rusak.
Apalagi, bila kemudian barang-barang –hasil memburu promo live, digunakan seenaknya sendiri. Dalam hitungan jam, tentu akan tidak bisa dipakai lagi. setelah itu, akan menjadi sampah dan ngebak-ngebaki rumah.
Kita perlu sadar, hakikat barang yang kita punya memang benda mati. Meski begitu, ia ciptaan kita –sebagai manusia, dan ada tata cara atau panduannya untuk membikin awet.
Jika kemudian diabaikan, tentu kelanggengannya tidaklah terwujud. Itul logikanya.
Terlebih, perihal panduan, kini telah banyak hadir diberbagai platform digital dan mudah diakses. Mau website tersedia, via video singkat juga ada, bahkan video dalam durasi yang lama tinggal klik sambil apa saja akan diperoleh informasinya.
Hanya saja, kita luput untuk melakukan hal di atas. Coba diamati, pencarian kata "barang baru" dengan pencarian "cara untuk merawat" lebih banyak yang mana?
Amatan saya, lebih banyak pencarian katar “barang baru” agar keinginan hidup kita menjadi konsumtif.
Ketika pola pikir sudah diarahkan kepada hidup yang konsumtif, tentu bagi saya ada sisi kerugian.
Pertama, dari sisi keuangan akan ada problem. Yakni, sifat boros untuk memenuhi ambisi keinginan barang baru, akan mengosongkan tabungan yang kita miliki.
Tidak jarang pula, hingga meninggalkan pinjaman online. Sehingga kita sebagai penerima pinjaman (borrower) akan diuber-uber, dan diteror oleh pemberi pinjaman (lender).
Kedua, hanya memenuhi kesenangan sesaat. Bila ini lebih kepada penyakit mental “gengsi”. Ada tetangga bisa beli ini, kita tidak mau kalah. Jadi, jengkel dan seterusnya.
Padahal, kita tidak ukur diri mampu atau tidak. Jangan kemudian disamaratakan jika tetangga bisa membeli, kita juga kudu bisa membelinya.
Jika paradigma itu menempel dipikiran, yang terjadi kemudian adalah hal-hal di luar nalar “akan” dilakukan demi memenuhi keinginan sesaat.
Akhirnya, merawat barang yang telah dimiliki, jauh lebih nikmat agar tidak ada rasa “berdosa”, oleh karena menelantarkan apa saja yang sudah kita beli.
8 Ramadan 1447 H/26 Februari 2026 M

Posting Komentar untuk "Merawat vs Membeli"