Pra Launching Penerbit Pena Abadi: Mengabadikan Gagasan dari Meja Kopi
![]() |
| SUASANA-Dunungan Website Penerbit Buku Pena Abadi dengan Pengembang. |
Pagi itu Kamis (25/12/25), tepat pukul 09.00 Wib, suasana KUA Caffe Bojonegoro menjadi saksi sebuah momen penting –pra launching, penerbit buku Pena Abadi.
Di tengah aroma kopi yang mengepul dan obrolan ringan yang mengalir tanpa sekat, Penerbit Pena Abadi resmi akan hadir dengan penuh santai dan kedamaian.
Bukan di ruang formal dengan panggung megah, melainkan di meja kopi yang hangat.
Sebuah pilihan sederhana, namun sarat makna, seolah menegaskan bahwa gagasan besar bisa lahir dari ruang-ruang santai.
Tawa kecil, sruputan kopi, dan ide-ide yang mengalir perlahan berpadu menjadi satu. Pra launching Penerbit Pena Abadi pagi itu terasa berbeda, karena terasa lebih dekat, lebih cair, dan lebih membumi.
Buku tidak lagi diposisikan sebagai sesuatu yang kaku, tetapi hadir sebagai hasil dari percakapan, perjumpaan, dan kegelisahan yang dirawat bersama.
Bagi saya pribadi, momen pra launching ini terasa sangat istimewa. Ini adalah kali pertama saya ikut terlibat dan mengambil bagian dalam sebuah acara peluncuran penerbitan buku.
Sebuah pengalaman awal yang meninggalkan kesan mendalam, sekaligus menumbuhkan harapan agar ke depan saya dapat terus ikut berkontribusi, membersamai, dan menyukseskan perjalanan Penerbit Pena Abadi dalam merawat literasi.
Sempat Kesasar
Pagi itu juga diwarnai kisah kecil yang mengundang senyum. Sempat menyasar ke Perpustakaan Unugiri karena mengira acara digelar di san.
Maklum, perpustakaan memang dikenal sebagai salah satu tempat favorit Pak Usman Roin yang kini mengemban amanah sebagai Kepala Perpustakaan Unugiri.
Namun dari “kesasar” itulah cerita justru menjadi lebih hangat, sebelum akhirnya langkah benar-benar berlabuh di Warkop KUA Bojonegoro, tempat pra launching Penerbit Pena Abadi berlangsung.
Pemilihan Warkop KUA sebagai lokasi pra launching bukan tanpa alasan. Suasananya yang santai dan nyaman dipilih agar diskusi dan gagasan mengalir apa adanya.
Seperti yang disampaikan Mas Ifnu Wisma Dwi Prasetya, Dosen Teknik Informatika Unugiri sambil tersenyum, “Kalau tidak sambil ngopi, saya sulit berpikir jernih,” tuturnya.
Dan pagi itu, kopi benar-benar menjadi bagian dari lahirnya momen bersejarah tersebut.
Nama ‘Pena Abadi’ sendiri menyimpan filosofi yang dalam. ‘Pena’ dimaknai bukan sekadar alat tulis konvensional.
Melainkan, seluruh media yang digunakan untuk menulis, mulai dari pulpen, ponsel, laptop, hingga perangkat apa pun yang menjadi perantara lahirnya kata.
Sementara ‘Abadi’ mengandung harapan untuk mengabadikan momen, gagasan, dan cerita agar tetap hidup dan dikenang sepanjang masa.
Dari dua kata inilah, ‘Pena Abadi’ hadir sebagai penerbit yang ingin mengabadikan setiap jejak pemikiran dan peristiwa bermakna.
Usman Roin, Dosen Prodi PAI, yang juga selaku Founder Penerbit Pena Abadi, berharap kehadiran penerbit ini dapat menjadi bagian dari upaya menggiatkan literasi di Bojonegoro.
Pena Abadi ingin menyediakan ruang dan kemudahan bagi para penulis pemula, agar mereka berani menulis, berkarya, hingga sampai menerbitkan buku.
Ia juga berpesan kepada para penulis dan pembaca untuk terus menyalakan semangat melahirkan karya, apa pun bentuknya. Sebab, setiap karya memiliki nilai dan ceritanya sendiri.
Pena Abadi pun membuka diri sebagai mitra, ruang tumbuh, dan rumah bagi gagasan-gagasan yang ingin diabadikan.
Momen pra launching yang penuh makna ini dihadiri Usman Roin, selaku Founder Penerbit Pena Abadi, Ifnu Wisma Dwi Prasetya, selaku pengembang website, serta Widodo Ramadhoni, selaku marketing specialist di penerbitan tersebut.
M. Ainun Najib: Editor Buku, Penulis, Pegiat Literasi serta Alumni Prodi PAI Unugiri.

Posting Komentar untuk "Pra Launching Penerbit Pena Abadi: Mengabadikan Gagasan dari Meja Kopi"