Libur, Bersih-bersih
![]() |
| grafis.aw |
Libur di Ahad (22/02/26) ini, alhamdulillah bisa saya gunakan bersih-bersih rumah Pae, panggilan akrab saya kepada Bapak.
Bersih-bersih ini memang tidak sengaja, bermula dari dua meja tamu yang selaras tingginya dengan kursi, sedang satu meja tamu terlalu rendah. Padahal, meja itu baru dibeli satu set dengan kursi.
Oleh sebab satu meja warna coklat tergolong rendah, saya dengan Mae –panggilan untuk ibu, berinisiatif untuk memindahnya tidak diruang tamu (mbale). Tetapi, di ruang tengah.
Pae –panggilan saya kepada bapak, usul bila meja pendek itu diletakkan di belakang almari rumah bagian tengah. Tetapi, setelah dicoba, lebih pantas diletakkan di ruang tangah. Sebab, kebetulan terdapat empat kursi menjalin yang pendek, namun mejanya setinggi pinggang.
Sehingga, bila akan makan, minum, posisi meja lebih tinggi dan tidak nyaman. Oleh sebab, tinggi sebelah. Dalam bahasa Jawa-nya, njomplang. Begitu juga saat ngobrol, posisi kepala terhalang oleh meja sehingga tidak leluasa berkomunikasi.
Adapun meja panjang setinggi pinggang, dalam perjalanannya pindah di pawon. Sebelum itu, saya dengan Mae memindah satu persatu perabotan dapur.
Sementara "bayang" –atau amben, dari bambu yang semula digunakan wadah peralatan, kami bongkar. Sebab, selain ngebak-ngebai atau memenuhi tempat, juga sudah kurang layak pakai saking lamanya digunakan.
Saya dengan Mae terus menata rak, meja, kemudian tungku pawon agar nyiseh. Artinya, tidak berada di sembarang tempat yang itu justru menghalangi mobilisasi jalan. Adapun Pae, membenahi gedek yang pakunya sudah mulai renggang.
Dari hasil penataan ulang omah telung mpyak, alhamdulillah terlihat longgar. Tidak lagi sempit seperti sebelumnya. Ruang tamu jadi rapi dan bersih –setelah saya sapu, meski masih berlantai tanah.
Kemudian dibagian tengah, juga telah longgar dan bersih. Adapun pawon yang digunakan Mae, juga sudah longgar dan tertata rapi.
Penataan ini semata-mata untuk menjaga kesehatan keluarga. Kemudian dibagian dapur, biar membuat Mae kerasan kala masak di dapur.
Ringan Bantu
Meski puasa, saya, Mae dan Pae alhamdulillah kompak. Penataan ruang di rumah kayu milik Pae ini tidak terasa berat. Melainkan ringan.
Rumah berlantai tanah ini adalah hasil jerih payah Pae dan Mae. Ia tetap berdiri kokoh di tengah sekeliling sudah mulai dibangun rumah yang bertembok.
Adapun Pae dan Mae, ingin seperti ini saja. Kala saya dolan, yang pasti saya lakukan adalah nyapu rumah dengan sapu lidi mulai dari mbale (rumah depan), omah tengah dan pawon (dapur). Setelah itu, saya biasanya mijeti Pae, dan baru kemudian pulang.
Hal itu saya lakukan, agar meski rumah kayu dan berlantai tanah, kebersihan menjadi nomor satu. Dengan diperhatikannya kebersihan, hal itu akan membuat yang menghuni sehat pula.
Sisi yang lain, ada sisi estetis dari kehadiran rumah kayu. Sebab, dengan berlantai tanah nampak jelas ramah lingkungan.
Bagaimana tidak? Kala kita bertamu, tidak perlu nyopot sandal-sepatu. Langsung mlebet mawon. Tetapi juga ada kekurangannya, bila hujan, lumpur yang dalam bahasa Jawa-nya "awu", akan menempel di sandal-sepatu yang bertamu.
5 Ramadan 1447 H/23 Februari 2026 M

Posting Komentar untuk "Libur, Bersih-bersih"