Hasrat Semu Buka Puasa
![]() |
| grafis.aw |
Aneka makanan yang tersaji kala buka puasa, seperti “mau” di habiskan semuanya. Semacam balas dendam, istilah agak ekstrimnya. Bagaimana tidak, seharian puasa semua ditahan. Tidak makan, tidak minum, tidak merokok dan sebagainya.
Giliran melihat –misal es sirup, gorengan, kemudian lauk lele goreng, sambah ijo, ikan asin, sayur jantung pisang yang dimasak ala padang dan kurma; terbayang sebelum azan “akan dilibas semua”.
Saat azan berbuka tiba, lalu meminum es sirup, dahaga pun menjadi sirna. Selanjutnya, makan pun tidak semua dilahap hingga habis.
Nasi cukup mengambil satu entong, sayur jantung pisang satu irus, serta ditambah tempe satu; perut yang asalnya lapar –ingin lahap semua– jadi penuh dan berhenti otomatis dari hasrat ingin menghabiskan.
Apa yang saya alami ini, mungkin juga dialami oleh pembaca. Keinginan yang menggebu-gebu untuk menghabiskan makanan yang dimasak istri atau ibu, kandas di tengah jalan. Seperti gertakan awal saja.
Pada posisi ini, saya jadi mikir, ternyata apa yang “akan” dimasukkan di perut kala buka puasa memang tidak perlu semuanya. Bila semua dientekke (habiskan), yang terjadi kemudian susah bangkit.
Padahal, malam Ramadan masih menyisakan aktivitas paralel mulai jamaah maghrib, dilanjutkan isya, serta belum lagi tadarusan baik mandiri, hingga berkelompok di musala dan masjid.
Jika kemudian perut penuh, maka hal itu akan membuat kita berat berdiri, malas, hingga akhirnya kantuk pun tidak bisa dibendung lagi.
Untung saja, tidak mengikuti salat tarawih dengan speed tercepat sebagaimana yang viral di Blitar tahun 2025 lalu, yang hingga kini jejak digitalnya masih ada.
Coba diangan-angan perut dalam keadaan penuh, kemudian mengikuti salat tarawih dalam bahasa netizen 100 km/jam, 500 km/jam, hingga ada yang masuk kategori kecepatan tahun cahaya, bisa koclik dan keluar semua apa yang sudah dimakan.
Berkaca dari kasuistik di atas, berbagai pendidik Islam kemudian memberi teladan saat buka cukup air putih terlebih dahulu, atau dengan yang manis-manis.
Perihal yang manis-manis ini, dalam implementasinya bisa diwujudkan berbeda-beda sesuai kemampuan. Bisa es sirup atau teh manis. Bagi yang mampu, dengan makan kurma di mana ada rasa manisnya.
Dua Pilihan
Setelah membatalkan puasa, terdapat pilihan mau diselingi terlebih dahulu salat berjamaah maghrib, atau pula dilanjut dahulu makan yang telah dihidangkan.
Pilihan pertama tersebut, tentu bila konteksnya adalah ikut buka bersama di masjid sebagai misal, maka yang terpenting adalah dibatalkannya puasa terlebih dahulu. Kemudian, langsung disambung berjamaah maghrib. Baru kemudian makan nasi yang diperoleh.
Lalu pilihan kedua, kala berbuka bersama keluarga atau di rumah makan, dari membatalkan puasa –dengan minum air atau yang manis, kemudian diteruskan dengan hidangan makanan yang tersedia. Baru setelah selesai, jamaah maghrib dilakukan.
Dua pilihan tersebut, ternyata berdasar pada surah Al-A‘râf (7): 31, dan al-Isrâ’ (17): 26-27, yang diambil titik temu makan dan minum secukupnya.
Tidak kemudian berlebih-lebihan atau bermewah-mewahan (isrâf) hingga mengakibatkan kekenyangan, serta tidak menyisakan makanan dan minuman yang menimbulkan tabdzîr (mubadzir).
Akhirnya, hasrat ingin melahap semua makan kala buka puasa bolehlah digelorakan. Hanya saja, melihat berbagai efek serta tuntutan Islam, secukupnya lebih baik agar bisa ready melaksanakan amaliah penuh makna dan pahala bulan Ramadan.
4 Ramadan 1447 H/22 Februari 2026 M

Posting Komentar untuk "Hasrat Semu Buka Puasa"