Maksimalkan Edit Mandiri
![]() |
| grafis. aw |
Kala membimbing mahasiswa, ada banyak sekali yang dilupakan. Salah satunya perihal edit yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan memperbaiki naskah atau sunting naskah, sebelum dibimbingkan kepada dosen.
Ketika membaca naskah proposal skripsi yang luput edit –sebagai misal, dosen pembimbing kaget. Kok banyak kesalahan penulisan! Akhirnya, pembimbing coret sana-sini dan menjadikan draft proposal skripsi yang ditulis penuh dengan catatan serta lipatan-lipatan.
Terkadang pula, mahasiswa abai atau tidak memedulikan. Sudah dicoret pada bimbingan dihari kemarin, tetapi ketika ketemu lagi –belum hingga tidak, diperhatikan dalam hal suntingnya.
Berdasar fenomena inilah, edit mandiri kudu dilakukan oleh mahasiswa. Sebab menurut Yunus Abidin, dkk., (2017:208), mahasiswa bisa menilai kebenaran karya tulis skripsi yang dibuat dari segi kebenaran isi, bahasa, maupun teknik penulisan.
Dalam hal kebenaran isi, mahasiswa checking lagi kejelasan literatur yang disitasi apakah langsung mangambil dari sumber primer atau sekunder. Kemudian kelengkapan sumber rujukan yang diambil. Sebab, bila mahasiswa hanya mengandalkan input data reference manager, terkadang masih ada ‘kelengkapan’ data yang kurang hingga salah penempatan.
Di sinilah diperlukan ketelitian data melalui meta data, agar kebenaran sumber kutipan menjadikan benar sebagaimana isi teks yang dikutip.
Kemudian dalam hal kebenaran bahasa, mahasiswa bisa mengecek kebakuan lewat KBBI online yang bisa didownload melalui play store. Atau, bisa datang ke perpustakaan –salah satunya Unugiri, dengan melihat kamus dalam bentuk cetak yang tebal.
Lalu perihal kebenaran teknik penulisan, selain bisa merujuk pada pedoman penulisan menulis dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, mahasiswa juga bisa mendasarkan pada buku pedoman penulisan skripsi yang dimiliki oleh masih-masing kampus.
Sebab, masing-masing fakultas memiliki gaya selingkung sendiri-sendiri. Apalagi sumber kepenulisan yang baik dan benar, kini mudah dijumpai pada platform youtube.
Untuk meyakinkan kepada pembaca, saya telah riset kecil di youtube dengan kata kunci ‘Cara sunting karya tulis sesuai EYD’. Dalam waktu cepat, 13 kanal youtube tersedia.
Bila kemudian mahasiswa bisa menonton sebentar, cara menulis karya ilmiahnya akan sesuai dengan buku pedoman. Bukan asal, dan membuat dirinya bingung.
Melalui Buku
Bika kelelahan dalam menonton kanal youtube, mahasiswa juga bisa membaca buku perihal strategi menulis skripsi yang tersedia di perpustakaan –salah satunya Unugiri.
Sebagai misal bukunya Masnur Muslih berjudul “Bagaimana Menulis Skripsi?” (2009), bisa dijadikan tambahan pengetahuan menulis yang baik dan benar.
Sedikit saya sampaikan, pada halaman 116-123 terdapat pengetahuan perihal bagaimana menyusun paragraf, ejaan; yang itu bila dibaca akan mampu menambah keterampilan menulis.
Di sinilah kala mahasiswa menyusun karya ilmiah, ia akan memiliki pengetahuan ejaan yang benar. Ending-nya kala bimbingan, akan minim catatan dari dosen.
Lalu kapan untuk membaca buku-buku tersebut? Jawabnya adala menyempatkan kala ada waktu longgar. Sebagai misal, ada perkuliahan yang kosong.
Bisa juga saat mata kuliah dalam sehari hanya satu, sehingga waktu yang tersisa bisa digunakan untuk membaca buku kepenulisan skripsi di perpustakaan.
Ketika membacapun tidak usah setiap hari bila berat. Cukup seminggu sekali bila dijumlahkan satu bulan sudah empat kali membaca literatur panduan menulis skripsi.
Jika kemudian dikalkulasi selama setahun, sudah ada 48 kali belajar memperdalam ilmu kepenulisan. Dengan tersebut tentu keterampilan menulis skripsi, makalah, jurnal dan jenis-jenis kepenulisan ilmiah lainnya akan bisa ditaklukkan.
Ikut UKM
Untuk mengasah keterampilan menulis, bagi saya ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) kepenulisan adalah pilihan tetap. Bila dipikir-pikir dengan seksama, untuk bisa menulis dengan baik dan benar itu kudu membutuhkan rentan waktu yang lama. Tidak ‘seperti’ membalik tangan.
Keberadaan UKM kepenulisan, memang untuk membekali keterampilan menulis. Sebab, terampil menulis bukan sekadar pandai copy-paste dari teks ke lembar teks baru.
Lebih dari itu, ia adalah keterampilan untuk memaknai ulang (parafarasa) dengan narasi sendiri, berwujud struktur baru yang mudah dipahami berdasar kaidah kepenulisan yang benar.
Karenanya, mempelajari keterampilan menulis di UKM sejak dini –semester awal kuliah, nanti ketika di semester tujuh akan memahirkan menulis ilmiah.
Indikatornya typo minim. Kemudian membuat sitasi ala mendeley-zotero jago. Gaya menulis ilmiah –jurnal, skripsi, makalah dan sebagainya, telah jadi menu keseharian yang itu luput diberikan pada ruang perkuliahan.
Akhirnya, jika kemudian keterampilan itu diberikan melalui kegiatan UKM, tentu dalam hal kepenulisan yang baik dan benar akan sangat membantu mahasiswa menghasilkan karya tulis bermutu. Bukan ‘asal’ di mana sekali melahirkan karya tulis, selanjutnya jarang dibaca ulang (mutholaah) kembali.

Opsi yang terakhir ini, biasanya menjadi opsi yang berat, Pak Dosen.
BalasHapusSebab, tak semua mahasiswa tertarik berlitersi (dalam hal ini baca-tulis).