Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tadarus Intelektual

grafis.aw

Malam Ramadan ke-23, saya gunakan untuk membaca. Pertama, buku Carol S. Dweck (2025) berjudul “Mindset: Mengubah Pola Pikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda”; adapun Kedua, karya Tom Nichols (2024) berjudul “Matinya Kepakaran”. 

Mungkin, bila boleh saya maknai, aktivitas membaca di waktu malam ini sebagai tadarus intelektual. Latar belakangnya, otak ini bila terlalu banyak menyerap media sosial, yang ada hanya geregetan saja.

Bagaimana tidak! Ketika suasana Ramadan, malam yang kudunya dibuat untuk memerihkan dengan tadarus, tahajud, hingga membangunan orang makan sahur. Tetapi visual informasi yang beredar di media sosial, menunjukkan perilaku kurang terpuji berupa tawuran menggunakan senjata tajam (sejam). 

Sekelumit peristiwa tersebut, tentu dibutuhkan yang namanya ketahanan diri. Artinya, di bulan Ramadan yang secara normatif tadarus dengan membaca Al-Qur’an sebagai bentuk menyemarakkannya, akan lebih baik bila kemudian didukung dengan tadarus intelektual.

Bentuk

Perihal tadarus intelektual, ini sasarannya adalah diri sendiri. Wujudnya, dengan menggalakkan membaca buku, guna mengisi nutrisi otak agar senantiasa tambah meningkat pegetahuan baru dan pemahaman arti kehidupan yang damai. 

Bagi saya, ini bagian dari jalan sesaat, untuk kemudian sedikit meluangkan waktu membaca tanpa terganggu oleh notifikasi gadget. Coba sesekali di hitung, dalam sehari semalam, berapa jam dihabiskan untuk asyik dengan gadget.

Jika kita sudah berani bertanya kepada diri sendiri, perihal berapa jam lekat dengan gadget, apakah kurang? Lalu, kapan giliran digunakan untuk membaca buku! 

Terhadap pertanyaan yang Pertama, berapa jam waktu yang sudah dihabiskan dengan gadget? Mari dijawab dengan jujur. Lima, enam, atau sembilan jam dalam sehari. Jawaban jujur ini untuk evaluasi diri. Oh, ternyata saya terlalu banyak asyik dengan gadget. 

Jika kemudian sudah tahu, bahwa ada sekian jam waktu habis untuk gadget, perlu diwujudkan langkah preventif untuk mencegah. Kemudian, memformulasikan agar ketika hari esok dikarunikan oleh Allah Swt kembali, gadget bisa kita batasi. 

Sebagai pengganti, waktu itu bisa digunakan untuk membaca, sebagaimana jawaban untuk pertanyaan saya, Kedua. Terkait waktunya, bisa dilakukan Ketika sedang menunggu buku puasa. Dengan catatan, bila tidak ada agenda buka bersama.

Bisa juga di tengah malam, utamanya pasca istirahat setelah melakukan sunah tarawih plus witir, yang kemudian dilanjut tadarus. 

Kemudian, pasca selesai makan sahur. Bilamana ada sisa waktu, tidak ada salahnya kala menunggu waktu subuh tiba, aktivitas membaca bisa dilakukan. 

Atau pasca subuh, di mana biasanya digunakan untuk kembali tidur, untuk kemudian digunakkan waktunya untuk membaca buku.

Akhirnya, tadarus intelektual kiranya perlu digemakan, agar kala melek atau begadangnya kita diridlai-Nya mendapat lailatul qodar. Bukan sekadar digunakan scroll atas-bawah media sosial. Tetapi, membalik-balik halaman buku alias membaca. 


23 Ramadan 1447 H/13 Maret 2026 M

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Tadarus Intelektual"