Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ramadan, Pesan Mendidik Diri

  

grafis.aw

Kala Ramadan, selepas Subuh, di masjid dan musala bahkan di rumah-rumah akan ada kebiasaan membaca Al-Qur’an. Di waktu lain, kebiasaan itu tetap dilakukan guna mengisi Ramadan dengan aktivitas yang bernilai pahala.

Tulisan ini tidak ingin menunjukkan kepada pembaca, perihal jumlah pahala yang akan diterima sebagaimana dogma Agama. Sebab, hal itu sudah banyak dikupas agamawan, ustaz, penceramah dan sinonim nama lain yang digunakan.

Yang ingin ditelaah adalah, mengapa Ramadan dijadikan spirit atau meminjam idiom Jawa “kawah condro dimuko” diri, agar mudah dan terbiasa melakukan kebaikan.

Lantunan Ayat

Sebuah kasuistik. Pagi Selasa (10/03/26) selepas jamaah Subuh, lantunan ayat Al-Qur’an dibaca atau dalam bahasa lain familiar dengan tadarus, memunculkan perenungan mengapa itu dilakukan istikamah selepas Subuh di bulan Ramadan?

Pertanyaan sederhana ini setelah saya angen-angen, ternyata tersimpan pesan bijak. Ada budaya yang ingin dilestarikan, lalu ada pribadi yang ingin dididik. Itulah dua hal yang bagi saya menarik.

Pertama, perihal budaya. Hadirnya tadarus utamanya Ramadan, hakikatnya adalah menyimpan sesuatu yang akan dibiasakan. Sehingga, ketika aktivitas itu sudah membiasa, itulah kemudian yang disebut dengan budaya. Alhasil, Ramadan akan lekat dengan kebiasaan tadarus, di mana orang jawa lekat dengan darusan.

Lalu, budaya –tadarus, ini tidak boleh sekadar di bulan Ramadan saja. Ia kudu diteruskan pasca Ramadan. Yakni, Syawal dan bulan-bulan Islam berikutnya, sehingga ketemu dengan Ramadan kembali.

Kedua, setelah tadarus itu konsisten dilakukan, ia tidak sekadar memunculkan budaya. Tetapi, juga akan membentuk seseorang yang melakoninya menjadi terdidik. 

Dalam hal ini, ia mendidik dirinya sendiri untuk terbiasa membaca Al-Qur’an setelah subuh.

Ketika kita –telah terdidik dengan istikamah membaca Al-Qur’an, baik dikala Ramadan maupun di luarnya, itu artinya kita menikmati diri menjadi orang sukses. 

Artinya, sukses untuk mengisi hari-hari dengan tetap belajar melanyahkan lidah dengan bacaan Al-Qur’an.

Semakin kita tidak –atau dalam diksi lain langka membaca Al-Qur’an, itu sama dengan menjadikan lidah kita tidak terlatih melafalkan huruf hijaiyah

Ketika tidak pernah, itu artinya sama dengan menumpulkan bacaan, dari mahir menjadi tumpul, dengan tanda-tanda semakin hilang makhroj hurufnya.

Jika demikian, Ramadan ini adalah sarana tarbiyah atau mendidik diri di mana meminjam bahasa Muhaimin (2009:14), kita berniat untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai Islam terwujud nyata dalam praktik keseharian diri, dan kemudian berkembang menjadi kebudayaan sosial.


20 Ramadan 1447 H/10 Maret 2026 M

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Ramadan, Pesan Mendidik Diri"