Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Qoda’ Tulisan

 

grafis.aw

Semangat menulis di bulan Ramadan menyala banget. Ingin dalam sebulan –Ramadan, ada tulisan yang berbicara perihal apa saja yang positif dilakukan di dalamnya. 

Sehingga, saya, lalu pak Slamet Widodo yang tergabung dalam group “pena blogger”, silih berganti mengirim tulisan yang kami posting pada personal blogger.

Semangat tersebut terus menggebu mulai dari hari pertama puasa. Ketiga masuk hari ke-20 tepatnya, ternyata kesibukan yang saya alami luar biasa. 

Mengajar, lalu menemui mahasiswa yang bimbingan, belum lagi tugas menjadi Kepala Perpustakaan ternyata menyita waktu. Sehingga perihal menulis sempat “bolong” atau tidak ada karya yang ditulis, diposting dan dishare ke group.

Apa yang terjadi, ternyata juga dialami oleh pak Slamet. Beliau juga satu hingga dua kali absen untuk mengirimkan tulisannya. Alhasil, karena kesibukan, badan sudah terasa sayah –atau capek, menjadikan aktivitas menulis tidak

Tercetus ide cemerlang dari beliau diqada’ menulisnya. Ide ini masuk juga. Operasionalnya berarti, hari yang telah lewat absen menulis, kemudian diganti pada hari lain. 

Bila kemudian sehari absen menulis, maka di hari berikutnya kudu menghasilkan dua tulisan. Dengan asumsi, satu tulisan digunakan untuk meng-qada’ hari kemarin yang absen menulis. Sehingga, dalam sebulan Ramadan, jumlah tulisan genap. Tidak kemudian menjadi kurang.

Waktu Menulis

Di bulan Ramadan, waktu menulis memang kudu agendakan. Kita tahu, Ramadan penuh dengan kepadatan dalam beribadah. Siang sudah digunakan untuk bekerja. Bila kemudian digunakan untuk menulis, tentu daya tahan berupa lapar akanlah terasa. 

Ketika malam, setelah buka puasa waktu untuk menulis terlalu sedikit. Karena setelah itu, akan digunakan untuk sembahnya maghrib, isya’ kemudian diteruskan sunah tarawih dan witir. 

Praksis, setelah itu masih diteruskan dengan tadarus Al-Qur’an. Belum pula yang ingin i’tikaf di masjid.

Alternatif untuk menulis adalah bisa setelah tadarus. Tepatnya, setelah istirahat beberapa jam, atau setelah subuh. Hanya saja, terkadang selepas subuh masih terdapat kajian bakda –setelah, subuh. Adapun pasca itu, sudah siap-siap untuk bekerja sesuai dengan profesinya.

Sebagai jalan tengah, pertama, menulis tetap bisa dilakukan pada selesai istirahat. Tepatnya setelah tadarus Al-Qur’an. Alternatif ini, adalah untuk mengistirahatkan terlebih dahulu badan agar setelah bangun kondisi bisa fit kembali.

Kedua, bisa dilakukan selepas sahur. Kiranya waktu ini juga bisa menjadi pilihan, agar karya tulis tetap bisa dihasilkan. Pilihan waktu ini, tidak kemudian menggurkan waktu bercengkerama dengan jamaah selepas subuh untuk bisa mengikuti kajian.

Apalagi, dengan hadir di majelis ilmu –selepas subuh sebagai misal, itu bisa dijadikan bahan materi tulisan baru berikutnya. Intinya adalah, bagaimana kita tetap berusaha untuk melahirkan tulisan. 

Hal ini sebagaimana disampaikan Carol S. Dweck dalam bukunya “Mindset: Mengubah Pola Pikir untuk Perubahan Besar dalam Hidup Anda” (2025:106) bila memuji usaha –kita hingga orang lain, akan membuat IQ semakin berkembang.


21 Ramadan 1447 H/11 Maret 2026 M

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Qoda’ Tulisan"