Nuzulul Qur'an dan PR Literasi
![]() |
| grafis.aw |
Diminta mengisi kajian sebentar menjelang buka puasa oleh UKM Jam’iyyah Qurro’ wal Huffadz Al-Humaida Unugiri Selasa (17/03/26), pokoknya siap. Meski saya, bukan tipe penceramah. Melainkan, dominan penulis.
Sebagai bekal, saya coba kumpulkan literatur materi. Baik online serta offline. Sehingga, apa yang saya sampaikan ada nilai kebaruan.
Saya sampaikan kepada pengurus dan anggota JQH, bila poin penting diturunkannya firman Allah Swt, lewat malaikat Jibril kepada Nabi Saw, adalah meminta untuk membaca.
Jika kemudian dihubungkan dengan hal literasi, membaca adalah kemampuan dasar yang kudu dilakukan siapa saja.
Meski, kala membaca, kita mengalami kesulitan dalam pelafalan dan pemahaman, sebagaimana Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yang diminta Jibril untuk menirukan bacaan secara harfiah atas firman-Nya.
Lalu dalam konteks kekinian, membaca harfiah, terlebih Ramadan, kudu semangat dilakukan. Hal itu memiliki dua fungsi, edukatif dan dakwah.
Fungai edukatif, membaca Al-Qur'an akan membina seseorang kepada kelanyahan membaca. Selain itu, juga dalam rangka melatih makhorijul huruf kala membaca.
Kemudian dari sisi dakwah, hadirnya tadarus sebagai sarana memeriahkan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur'an. Maka, sudah sepantasnya bila Ramadan tiba, gema tadarusan tidak sekadar menghiasi masjid, musala.
Lingkup keluarga juga ramai oleh tadarus individual maupun kolektif di dalamnya.
Teks ke Konteks
Mementum nuzulul Qur’an, secara singkat memuat dua hal. Pertama, pelajaran untuk membaca teks ayat suci Al-Qur’an.
Dalam hal ini bisa, dengan mengikuti kajian pasan offline maupun online, hingga membaca kitab tafsir yang sudah banyak ditulis mufassir.
Sebagai contoh Prof. M. Quraish Shihab dalam “Tafsir Al-Misbah” (2000:378-379), atau “Lubabut Tafsir min Ibni Katsir” karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Al-Sheikh (2005:346-347).
Sebagaimana potongan surah Al-Baqarah: 185, “Bulan Ramadan, bulan yang diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas-penjelas mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara hak dan batil) …” ini pujian bagi al-Qur’an, bila ia diturunkan sebagai petunjuk hati kita sebagai orang beriman.
Bahkan, kehadirannya tidak berhenti dalam memerintahkan atau mewajibkannya. Tetapi, secara jauh dijelaskan pula bagaiman implementasinya. Alhasil, karena mengandung petunjuk sekaligus penjelas perihal petunjuk-petunjuk itu, kemudian membenarkan dan mengikutinya.
Di sini, saat kita membaca Al-Qur’an secara harfiyah (teks) lalu didukung dengan arti dan pemaknaan dengan mengambil uraian dari para mufasir, akan bisa digunakan untuk memberi petunjuk kepada siapa saja.
Sehingga, yang jelas menjadi jelas, lalu yang belum jelas jadi jelas.
Kedua, pelajaran untuk mengamalkan. Apa saja yang telah kita ketahui dari uraian mufasir, tentu tidak sekadar berhenti pada ranah pengetahuan (kognitif). Melainkan, diteruskan kepada ranah afaktif (sikap) dengan jalan diamalkan.
Proses mengamalkan ini tentu agar orang lain mau ikut menjalankan, secara pribadi kita kudu menjalankan terlebih dahulu.
Kemudian, agar kemanfaatan pengamalannya semakin banyak, kita bisa menularkan dalam wujud berceramah, hingga menulis pengetahuan kandungan ayat hasil dari ngaji atau membaca tafsir para mufasir.
Dalam hal berceramah, kita bisa menghubungkan antara fenomena yang terjadi sebagai misal –tawuran kala membangunkan sahur yang viral, untuk kemudian dicari ayat Al-Qur’an, hadis, secara operasional bagaimana mengisi bulan Ramadan agar menuai berkah. Hal senada, juga bisa dilakukan dengan menulis.
Berdasar urian di atas, nuzulul Qur’an bila dihubungkan dengan literasi dekat sekali. Sebab, secara istilah literasi dalam KBBI kemampuan untuk menulis dan membaca.
Oleh sebab itu, turunnya Al-Qur’an sebagai firman Allah Swt, sudah semestinya kudu dibaca untuk memberi petunjuk kepada yang hak dan batil.
Setelah dibaca –secara fenomenologis, agar pengamalannya massif, dinformasikan melalui ceramah hingga menulis guna dijadikan panduan dan biimbingan manusia agar tidak mudah tersesat.
28 Ramadan 1447 H/18 Maret 2026 M

Posting Komentar untuk "Nuzulul Qur'an dan PR Literasi"