Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Misi Ramadan 30 Hari Menulis

grafis.aw

Masing-masing orang, memiliki misi atau tugas yang dirasakan sebagai suatu kewajiban untuk melaksanakan demi sesuatu. Mulai dari mengikut ngaji posonan, agar selama Ramadan bisa khataman kitab.

Lalu membaca Al-Qur’an setelah salat wajib dua lembar, dengan harapan sebulan Ramadan bisa mengkhatamkan satu kali. 

Kemudian bila menengok selebritis, sibuk memasak mulai dari hari pertama, kedua, dan seterusnya, dengan tujuan selama Ramadan ingin memberi takjil atau makan berbuka kepada semua orang.

Belum lagi masjid yang setiap sore ramai oleh kajian menjelang berbuka puasa; sehingga mulai dari anak-anak, remaja, pemuda dan manula hadir selain ingin memperoleh asupan pengetahuan via nguping, juga mendapat takjil gratis.

Semua yang dilakukan memiliki misi sendiri-sendiri. Adapun saya, lalu mungkin pula Bapak Slamet Widodo, mencoba istikamah menulis juga tidak luput dari misi. 

Secara pribadi, one day one tulisan selama bulan Ramadan adalah misi khusus ingin melahirkan buku baru. 

Bahkan, angan-angan judul buku telah saya catat, yakni “Memeluk Ramadan” sebuah usaha kontemplatif bagaimana to sebenarnya menjalani Ramadan dengan enjoy, menikmatinya sebagai bentuk syukur logis berbasis teologis, yang kemudian direcord agar tidak berlalu begitu saja.

Tidak Diviralkan

Sengaja, artikel terbaru yang saya hasilkan tidak saya viralkan terlebih dahulu dengan membuat sebagai status WhatsApp. Atau, melalui media sosial (Medsos) yang saya miliki. Tetapi, cukup saya share secara privat melalui group kecil “Pena Blogger”.

Alasan saya biar menjadi surprise. Cukup saya posting pada personal blogger dan dinikmati oleh anggota penulis di group. 

Terlebih, menuju setengah perjalanan bulan Ramadan, saya merasa ada motivasi tinggi untuk menaklukkan diri bahwa saya maupun Bapak Slamet Widodo semangatnya 45 untuk istikamah menulis setiap hari.

Perihal misi Ramadan 30 hari menulis, saya teringat apa yang disampaikan oleh tokoh psikoanalisis Erich Fromm dalam bukunya Fahruddin Faiz (2025:25-28) yang terbaru berjudul “Seni Menyikapi Hidup: Rahasia Melampaui Diri Sendiri”; dikatakan bila terdapat lima kebutuhan eksistensial atau kebutuhan yang perlu dipenuhi agar kita bisa hidup bahagia.

Salah satunya adalah kebutuhan transendensi atau melampaui diri sendiri. Kebutuhan ini dalam bahasa renyah Fahruddin Faiz, diuraikan sebagai sikap diri –kita sebagai individu atau manusia, untuk terampil mengatasi level pasif sebagai manusia, yaitu level kebinatangan dan kodrat manusia. 

Secara mudah dicontohkan, kita bisa melihat monyet zaman prasejarah dengan zaman kini, tidak ada bedanya. Begitu pula kerbau, sapi, sejak dahulu juga begitu. Mengapa? Itu karena mereka –para hewan, tidak melakukan transendensi, atau melampau dirinya.

Adapun manusia, melakukan transendensi untuk tetap eksis. Alhasil, bilamana manusia mulai dari nenek moyang hingga kini tidak melampau dirinya, maka tidak akan ada perubahan dalam hidupnya (evolusi). 

Jadi, mengapa ada “misi Ramadan 30 hari menulis”! Agar saya dan insya Allah Bapak Slamet Widodo ingin tetap eksis atau ada dan berkembang –meminjam istilah KBBI, sebagai penulis. 

Terlebih, penyematan “penulis” lalu tidak pernah menelurkan tulisan, akanlah gugur dengan sendirinya. Sebab, secara tidak sadar ia memilih mundur alon-alon pensiun dini dari gelanggang sebagai penulis.


14 Ramadan 1447 H/04 Maret 2026 M

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Misi Ramadan 30 Hari Menulis"