Menikmati Ramadan
![]() |
| grafis.aw |
Menikmati Ramadan bagi saya menjadi pekerjaan rumah (PR) masing-masing individu.
Ramadan yang penuh rahmah, maghfirah, serta terbebasnya dari api neraka tidak bisa dilalui begitu saja. Lempang. Melainkan, setiap waktu kudu ada upaya optimalisasi dalam penyelesaian amaliah.
Bentuk optimalisasi adalah kita memikirkan nilai kualititas, meminjam KBBI daring berbasis mutu.
Sebagai contoh, dalam menjalani puasa hal-hal yang dirasa mempunyai dampak mengurangi pahala –berbohong, memfitnah, iri dan seterusnya, ditinggalkan. Asasnya adalah, menjaga kualitas puasa.
Hal ini sebagaimana hadis riwayat Imam Bukhari nomor 1904 “… apabila manusia berpuasa, maka janganlan melakukan cacian, bersetubuh, dan jangan pula menghina…”
Jika kemudian dilakukan, dikhawatirkan pahala puasa hilang dan yang didapat sekadar “lapar dan dahaga”.
Masih di riwayat yang sama, bahwa terkait pahala puasa, Allah Swt sendiri yang membalasnya dengan redaksi gamblang “… setiap amal manusia adalah baginya –bagi manusia sendiri, kecuali puasa; sebab puasa adalah milik-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya ...”
Jika demikain, dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan sisi kualitas kudu diperhatikkan. Sebab, Allah Swt yang langsung menilai.
Alhasil, selama Ramadan, hal-hal yang sekiranya membatalkan, lalu mengurangi pahala hingga kita tidak mendapatkan apa-apa, sudah semestinya dihindari bahkan ditinggalkan.
Proteksi
Konsep di atas, kalau boleh saya analisis adalah seperti proteksi atau sedang melakukan perlindungan terhadap ibadah yang kita persembahkan kepada-Nya.
Agar proteksi perbuatan yang sekiranya membatalkan pahala, hingga puasa tidak terjadi; Pertama, idealnya pengetahuan kepuasaan perlu dipelajari.
Alhasil, kita mafhum, kala bulan Ramadan kajian Islam meriah di masjid-musala. Entah kajian menjelang berbuka puasa, setelah tarawih, hingga setelah sebuh. Semua memiliki muara sama agar kualitas puasa tidak “batal” oleh perilaku konyol yang kita ketahui tetapi dilakukan.
Kemudian, kajian berbentuk materi selain offline bisa kita dapatkan. Secara online hal itu juga bisa kita baca dan telaah melalui website.
Hanya saja, diperlukan penelahaan sumber dan peramu atau pembuatnya. Sehingga isi yang disuguhkan bukan setengah-setengah kebenarannya, melainkan sudah pasti benar dan tidak hoax.
Sebagai contoh nu.or.id, situs keagamaan yang menampilkan rujukan sahih perihal amaliah ibadah utamanya saat berpuasa.
Kedua, hasil pengetahuan berupa hadir di majelis Ramadan, bisa digunakan sebagai alat untuk mengembangkan cara menghiasinya secara optimal.
Sebagai contoh, yang asalnya melakukan ibadah tarawih menggunakan kaos oblong, seiring dengan pengetahuan lewat kajian offline-online, ada perubahan dalam pelaksanaannya.
Berbaju hem, atau baju lain yang rapi dan wangi, sehingga kala digunakan beribadah mampu menambah semangat menyelesaikan setiap laku spiritual dengan tanpa menggerutu alias ikhlas.
Ketiga, menikmati setiap ibadah yang dikerjakan. Kini sepertinya, ada framing (pembingkaian) kala sebelum Ramadan tiba, berbagai konten dibuat untuk menyambut kehadiran bulan istimewa.
Giliran ketika sudah memasukan bulan Ramadan, framing-nya beralih kepada perayaan lebaran. Entah mulai dari baju baru, jajanan di hari lebaran, hingga keberadaannya dipasaran jadi ludes sejak dini.
Padahal, puasa yang kita lakoni baru memasuki 10 hari pertama, belum ada setengahnya dari bulan Ramadan.
Mari nikmati dahulu detik demi detik, jam demi jam, dan hari demi hari Ramadan yang mulia ini.
15 Ramadan 1447 H/05 Maret 2026 M

Posting Komentar untuk "Menikmati Ramadan"