Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menikmati Ibadah

grafis.aw

Menikmati ibadah yang wajib maupun sunnah di bulan Ramadan itu enak. Ada rasa “puas” bahwa kita bisa menyelesaikan dengan baik. Terlebih, Ramadan tinggal menghitung hari. Tentu, semangat untuk melaksanakannya kudu totalitas. 

Rasa menikmati –yang dalam pengertian saya, melakukan dengan penuh senang, tentu berbeda yang melakukan dengan rasa tak senang. 

Yang melakukan dengan senang, akan melakoni setiap gerak penuh penghayatan. Meresapi, hingga bisa jadi meneteskan air mata.

Alhasil, kala menjalankannya tidak tergesa-gesa, ikhlas, dan penuh khusuk awal hingga akhir. Yang dilakukan, serasa menyatu dalam rasa senang dan berbunga-bunga.

Berbeda kemudian bila kita menjalankan ibadah "mohon maaf" dengan rasa tak senang. Ekspresi muka akan terlihat. Capek tidak mau, dan inginnya cepat selesai. 

Padahal, kala menjalankan sunah tarawih sebagai misal, yang jumlahnya 23 rakaat bisa selesai 30-45 menit. Bahkan, bila menengok kabar viral media sosial, cukup 10 menit, 23 rakaat bisa tuntas alias super kilat.

Terbalik

Perilaku tidak senang melakoni ibadah Ramadan, dalam amatan saya jungkir balik dengan fenomena berlama-lama di depan gadget. Coba kita amati keluarga kita sendiri berapa rata-rata dia berlama-lama dengan gadgetnya. Minimal 2-3 jam sehari.

Belum lagi bila kemudian coba kita ketik saja seperti ini di mesin pencarian Google “hasil data masyarakat Indonesia memegang gadget...”; hasilnya terdapat data yang agak mencengagnkan, Indonesia menjadi negara nomor satu di dunia dalam hal durasi penggunaan ponsel, rata-rata lebih dari 6-7 jam sehari.

Bardasar pencarian di atas, tentu saya, dan kita perlu ngelus dodo (dada). Jangan sampai lama kita beribadah, kalah jauh dengan berlama-lama di depan gadget. 

Padahal, Allah Swt yang senantiasa memberi kemurahan segalanya. Diberi umur panjang, berfungsi anggota tubuh secara baik, serta dicukupkan rizkinya setiap saat dan masih banyak lainnya.

Jika demikian, mumpung masih ada puasa ke 26, 27, 28, 29, dan bila menunggu sidang isbat lalu posisi hilal belum dilihat, artinya terbuka kemungkinan penyempurnaan hingga ke 30. 

Maka, sudah seharusnya menikmati Ramadan dan pelaksanaan ibadah di dalamnya dilakukan.

Menukil sebuah hadis ke-6840 riwayat Imam Bukhari, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tidaklah seseorang berpuasa selama sehari karena Allah melainkan dengan puasanya itu, Allah menjauhkannya dari neraka sejauh 70 musim”. 

Jika kemudian dihitung matematis, dalam 1 tahun ada 2 musim –kemarau dan hujan. Artinya, 1 hari saja, 35 tahun kita akan dijauhkan dari api neraka oleh Allah Swt. Catatannya, bagi siapa yang puasanya betul-betul karena-Nya.

Bila kemudian dalam sebulan Ramadan, puasa yang kita lakukan itu betul-betul karena-Nya, di mana bukan karena pamer kepada sesama manusia, lalu betul-betul tulus ikhlas secara kualitas melakoni ibadah di dalamnya dinikmati; janji-Nya secara kuantitas 70 x 30 hari, sama dengan 2.100 musim kita akan dijauhkan dari api neraka.

Monggo, silahkan angen-angen kemurahan Allah Swt, dari satu aspek puasa yang betul-betul karena-Nya saja, Allah lipat gandakan agar kita sebagai manusia jauh dari api neraka. 

Silahkan, buat hitungan matematis aspek lain, agar kita banyak syukur hadirnya Ramadan ini.


26 Ramadan 1447 H/16 Maret 2026 M

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Menikmati Ibadah"