Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengawalkan Ibadah

grafis.aw

Ibadah biar enteng itu ternyata kudu dilakukan awal waktu. Sebagai contoh, sunah tarawih bila dikerjakan setelah isya langsung, tentu menjadi tidak berat. 

Berbeda bila kemudian sunah tarawih di bulan Ramadan, tetapi pengerjaannya setelah istirahat –tepatnya tengah malam, atau sebelum makan sahur; rasa berat akanlah muncul.

Itulah penggambaran sesekali yang saya lakukan. Untuk mengetahui bila mengerjakannya ringan dan berat, kita terkadang perlu mengalami sendiri. Baik dengan segera untuk melakukan, atau coba menelatkan pengerjaannya. 

Sehingga, dari dua pengamalan itu, ada benang merah kesimpulan yang baik untuk dilakukan.

Perilaku mengawalkan, ini seperti motivasi. Ia mendorong diri dengan kekuatan penuh. 

Bila digambarkan, daya dorongnya hampir 100 persen. Jika kemudian daya dorong untuk melaksanakan amaliah Ramadan luput dari keterwujudan, ia seperti baterai yang habis seketika (low battery).

Selain sebagai motivasi, tentu manfaat berikutnya adalah meningkatkan kualitas pengamalan. Sebab, dari sisi durasi waktu, masih banyak. Sehingga, amaliah Ramadan yang dilakukan, dinikmati yang kemudian sampai kepada relung hati, ikhlas, seriusi, dan kita sadar sedang melaksanakan ibadah.

Sebagai contoh, kala melaksanakan sunah tarawih, sikap tumakninah-nya hadir. Kemudian, kefasihan dalam membaca surat-surat pendek juga akan dijiwai. Hingga sampai kepada finish tawarih-witir berdoa, dengan sungguh-sungguh meresapi sebagaimana dimaksud.

Berbeda bila kemudian cara mengerjakannya kita mepet. Tentu secara kualitas, dalam melaksanakan ibadah Ramadan akan mengabaikan sisi meresapi, yang dalam kontek bahasa lain dinamakan muhasabah praktik amaliah.

Banyak

Fungsi lain –mengerjakan amaliah awal, juga berdampak kepada banyaknya pemerolehan. Sebagai contoh, tadarus Al-Qur’an bila itu dilakukan sedini mungkin setelah sunah tarawih-witir selesai, pemerolehannya akan banyak.

Apalagi, bila kemudian yang ikut tadarus jamaahnya juga banyak. Tentu, dalam satu bulan Ramadan, proses menghatamkan Al-Qur’an akan bisa dilakukan lebih dari satu hingga tiga kali. Bahkan, bisa lebih dari itu.

Akhirnya, semua kembali kepada diri, Ramadan yang kita lakoni ini sudah seharusnya mendapat tempat terbaik. 

Selanjutnya, setiap waktunya dimaksimalkan sebaik-baiknya lebih awal, agar pemperolehan nilai lebih "pengalaman batiniah" dapat meresap kala Ramadan selesai.


24 Ramadan 1447 H/14 Maret 2026 M

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Mengawalkan Ibadah"