Libur, Tak Tolak Mahasiswa ke Perpus
![]() |
| grafis.aw |
Sabtu (28/02/26) saya dolan ke Perpustakaan Unugiri. Kala sedang enjoy menulis, tiba-tiba saja ada mahasiswi yang coba membuka pintu perpustakaan.
Akhirnya, dua mahasiswi tersebut masuk dengan harapan bisa ke perpustakaan –selanjutnya saya singkat perpus.
Sabtu dan Minggu, sebenarnya perpus tutup (close). Hanya saja, ketika sudah ada mahasiswi datang, serasa “tidak” tega untuk menolak kehadirannya. Sebab, saya yakin niatnya ke kampus agar bisa ke perpustakaan.
Ketika dua mahasiswi saya tanya, “mau apa?”, jawabnya “mau membaca”.
Kalimat sederhana –membaca, inilah yang kemudian membuat saya mempersilahkan mereka di perpus. Saya sampaikan kepada mereka, bila membaca boleh, tetapi kalau meminjam belum bisa.
Hingga pukul 12.43 Wib, dua mahasiswi tersebut masih membaca. Sementara, saya asyik saja berada di ruang baca, sambali sesekali melakukan vacuum karpet.
Perihal vacuum, itu memang kebiasaan yang saya lakukan. Kala ke perpus, saya biasa bersih-bersih. Ya senang saja melihat perpusta bersih, rapi, meski perlu senantiasa dijaga dari waktu ke waktu.
Saya menyadari, bila kebersihan yang disuguhkan hakikatnya adalah untuk membuat nyaman pemustaka. Ia bisa nyaman mengerjalan tugas, sekadar membaca, apalagi membaca dan menulis sebagaimana yang saya lakukan.
PR
Yang masih menjadi pekerjaan rumah (PR) adalah, bagaimana mahasiswa agar semangat menggunakan literatur buku cetak yang tersedia.
Tantangan ini, tentu tidak datang tiba-tiba. Kemelimpahan sumber online, menjadikan mahasiswa pragmatis. Yakni, lebih tertarik dan menjadikan ngonline jadi literatur utama.
Kala ngonline, lalu menjadikannya sebagai literatur karya ilmiah, amatan saya mereka tinggal copy paste. Tidak perlu mengetik.
Padahal, dengan begitu bisa menjadi penyakit untuk tidak belajar melemaskan tangan agar tidak kaku mengetik dua jari. Yakni, jari telunjuk sebelah kanan dan satunya jari telunjuk sebelah kiri.
Dengan mengetik itu mahasiswa bisa melanyahkan 10 jari, terampil menyentuh keyboard semua. Sehingga, kecepatannya menjadi optimal. Lalu, tanpa melihat keyboard ia akan tetap bisa menulis dengan minim typo.
Selain itu, mahasiswa akan banyak berinteraksi dengan buku cetak. Sebab, sebelum buku online itu viral, cetak lebih dahulu hadir. Atas nama transdigitallah ia kemudian menjadi tersisihkan.
Jika kemudian mahasiswa tidak diarahkan untuk merujuk ke buku cetak, maka elan vitalnya tidak nampak. Buku cetak akan sekadar tersimpan rapi di rak buku. Sehingga, menjadikan perpustakaan tidak menarik dan sepi.
Koleksi Lama
Perpustakaan Unugiri, memiliki kekayaan koleksi lama. Kini koleksi tersebut tengah dilakukan penginputan. Apakah ada guna koleksi lama? Bagi saya, tetap ada guna. Justru, koleksi lama menunjukkan bila ia masih eksis sampai kini.
Dari sisi yang lain, koleksi lama perlu dibaca. Apalagi untuk generasi kini. Cara mereka membaca itu adalah proses menyambungkan sanad keilmuan agar mereka kenal ilmuan yang terdahulu. Akan lebih afdol, bila kemudian dikaji, dibedah, relevansinya dalam konteks kekinian terlihat nyata.
Sisi yang lain, dosen –pendidik di PT, dan guru –pendidik di jenjang pendidikan dasar-menengah atas; kudu mewajibkan agar mahasiswa-siswa mau menggunakan rujukan cetak di perpustakaan.
Tujuannya, perpustakaan mendapatkan tempat di hati, lalu koleksi pustaka yang dimiliki juga laku dibaca dan pinjam mereka.
11 Ramadan 1447 H/01 Maret 2026 M

Posting Komentar untuk "Libur, Tak Tolak Mahasiswa ke Perpus"