Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Beda Lebaran yang Jadi Perbincangan

grafis.aw

Perihal lebaran –2026, ada yang sudah mengumukan langsung, Jumat (20/3) akan lebaran. Ada yang masih melihat hilal. Bahkan, ada yang sudah lebaran dengan melaksanakan shalat Idulfitri sebagaimana jamaah Maluku Tengah, Makassar, Jember, Depok, dan di Dander Bojonegoro, Kamis (19/3).

Ramainya warganet berbincang-bincang via WhatsApp chat, hingga saling menimpali meme stiker dengan narasi yang lucu “alhamdulillah, akhirnya pemerintah, NU dan Muhammadiyah sepakat bahwa tanggal 20 nanti jatuh pada hari Jumat” serta, video reels instagram yang menyuguhkan adegan berbuka yang sudah lebaran dan menunggu buka bagi yang masih puasa, menggema.

Kehadiran perbicangan perilah “lebaran” selain sebagai bumbu manis chatting, juga sebenarnya harapan, agar lebaran bisa bareng. Tetapi, melihat berbagai metode yang digunakan, jelas, potensi perbedaan akan ada.

Perihal lebaran –ikut yang mana, sebenarnya tidak perlu diperlu diperuncing dan memperuncing. 

Diperuncing, artinya kehadiran yang berlebaran lebih awal, tengah dan belakang, dihormati dan tidak perlu dipertentangkan. Sebab, setiap pilihan, pasti ada konsekuensi dasar hukum yang digunakan.

Kemudian dalam hal memperuncing, jangan sampai setiap golongan yang berlebaran punya niatan ingin disorot “berlebihan” oleh media. 

Sehingga, selalu “ingin” menampakkan sisi “berbeda” tanpa pernah ingin coba menyatukan pikiran dan gerakan untuk melakukan lebaran bersama. 

PR Moralitas

Dibalik gemerlapnya perbedaan lebaran, masih ada PR menganga, salah satunya adalah perihal moralitas. Coba pembaca lihat di media sosial, orang tidak sabar di jalan, sampai-sampai harus ada jotos. 

Kemudian, kala membangunkan sahur yang hakikatnya punya motif baik agar masyarakat bisa menjalankan sunah makan sahur, berubah jadi ketegangan antar remaja, hingga berbuah pertengkaran menggunakan senjata tajam. 

Di luar dua contoh di atas, tentu masih banyak PR moralitas yang kudu disikapi masing-masing golongan yang sudah dan akan lebaran, untuk kemudian ambil bagian menanganinya. Bukan sekadar, ramai memperuncing perbedaan hari raya masing-masing.

Hal ini, sebagaimana sentilan Prof. Faisal Ismail (2017:284-285) dalam bukunya “Islam yang Produktif”, perlu upaya ikut mengambilan peran untuk mengatasi degradasi moralitas, dalam rangka mendorong saya dan kita semua untuk istikamah melakukan kebajikan, ketakwaan, dan kesalihan sosial. 

Caranya menurut beliau, nafsu hayawaniyah dan amarah, tidak sekadar dikendalikan dan dikalahkan kala melakukan puasa; melainkan di bulan-bulan setelah Ramadan. 

Yakni, Syawal hingga nanti ketemu Ramadan kembali juga mendapat perhatian intensif pengendaliannya.

Kemudian, nafsu mulhimah (ajakah melakukan kebaikan), lawwamah (kesadaran korektif) dan mutmainah (menanamkan ikhlas, damai, tentran dan seterusnya) juga tidak hanya dibina pula di bulan Ramadan. 

Melainkan, setelah Ramadan juga senantiasa perlu dibuatkan ruang khusus pula untuk membina dan meningkatkan. Sehingga, kemanfaatannya bukan hanya bisa dirasakan di bulan mulia ini, tetapi juga bulan pasca Ramadan.

Korektif

Selain ikut untuk membangun kebajikan, ketakwaan dan kesalihan sosial, yang lebih penting momentum lebaran adalah bagaimana melakukan upaya korektif diri dan sosial. 

Fakta kekinian, lebaran sebagaimana meminjam bahasa M. Ryan Romadhon dalam nu.or.id, perayaan jasmaninya identik dengan busana baru dan kemewahan hidangan. 

Ia juga menjadi ajang “pamer” pencapaian hidup atau kompetisi status sosial, yang justru mengaburkan makna.

Padahal, lebaran adalah momentum untuk memulihkan keretakan dalam hubungan antar manusia dengan cara meluruhkan ego, menjabat tangan dengan tulus, serta membuka pintu maaf selebar-lebarnya demi merajut kembali tali persaudaraan yang sempat merenggang.

Hal ini sebagaimana firmal Allah dalam surah an-Nur: 22, “hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada”.

Jika demikian, masih banyak PR bagi kita semua, dari sekadar memviralkan perbedaan lebaran. 

Sisi memulihkan “kemanusiaan” manusia, agar senantiasa teguh kepada ajaran Islam di mana pun dan kapan pun, menjadi bidang garapan yang tidak boleh dipending “nanti” dan “nanti”. 

Jangan-jangan, borok degradasi moral “sudah” lebar menganga dan luput dari kesadaran kita, seiring masifnya digitalisasi zaman yang masuk tak terbendung dalam relung privasi. Wallahu a'lam bishawab.


29 Ramadan 1447 H/19 Maret 2026 M 

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Beda Lebaran yang Jadi Perbincangan"