Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Baik Diri untuk Sosial

grafis.aw

Kritik sosial perihal penuhnya manusia untuk membeli jajanan menyambut lebaran, alhamdulillah tayang di blokbojonegoro.com berjudul “Panik Lebaran”.

Tulisan ini lahir dari keresahan kecil, mengapa kini keluarga enggan untuk membuat kreativitas jajanan khas ala pedesaan kala lebaran. Sehingga, yang terjadi adalah jajan instan menjadi opsi primer yang diburu. Sangat instan dan konsumeristik.

Jujur, saya menyayangkan, keluarga kini yang katanya melek pengetahuan nyatanya dalam implementasi untuk hemat “seperti” nol. Hal itu terjadi kala saya observasi kepada keluarga, salah satunya oleh faktor informasi media sosial yang setiap detik membanjiri ruang privasi.

Ia memberi informasi tidak terbendung kepada sepasang mata silih berganti. Pesan yang ditampilkan “seolah-olah” kudu dipenuhi dan dimiliki. Sehingga, mengakibatkan keborosan berjamaah terlaksana, dari satu keluarga kepada keluarga lainnya.

Keluarga “seperti” malu, bila jajanan yang dihidangkan tidak bermerek. Alhasil, berapa pun gaji yang diterima, akan habis oleh sebab tergiur oleh promosi live, atau visualisasi content creator yang itu berbicara perihal suguhan lebaran, hingga tema perihal apa saja yang kudu tersedia dimeja.

Perbagus Amal

Puasa yang kita lakoni sudah hari ke 25. Artinya, perjalanannya menunju pelan-pelan namus pasti kepada finish. Jika demikian, pelaksanaan perintah untuk menjalankan puasa di bulan Ramadan akan segera usai. 

Hanya saja, jamak kita saksikan, yang dipikirkan bukan bagaimana memperbagus pungkasan bulan Ramadan, tetapi malah sibuk memikirkan bagaimana memperbagus tampilan –hidangan, baju, gadget, hingga dekorasi rumah;  menyambut lebaran.

Padahal, pesan Kanjeng Nabi Muhammad Saw jelas, bila di sepuluh hari terakhir, beliau sungguh-sungguh mengencangkan ikat pinggangnya untuk banyak melakukan ibadah. Oleh sebab, sebentar lagi Ramadan akan purna.

Nyatanya, pesan Kanjeng Nabi seakan tidak dilirik. Padahal menurut Abdul Wahid dalam bukunya “The Secret of Puasa” (2021:167), puasa yang kita jalankan bukan sekadar menjaga dari lapar, dahaga, dan syahwat; tetapi juga mengerem dari perilaku tidak terpuji yang dapat menggugurkan pahala berpuasa. 

Dengan semangat melakukan pengereman alias pengendalian diri itulah, puasa yang dilakukan akan masuk pada kategori mempercantik akhlak. Sebab, puasa yang dilakukan seseorang dijadikan sarana membina akhlak. 

Wujudnya, bisa mulai dengan rajin berjamaah, berucap hanya yang baik-baik saja, banyak membaca dan menelaah ayat Al-Qur’an, kemudian ringan dalam berderma. 

Ketika selama sebulan Ramadan perilaku yang saya sebut, lalu masih ditambah perbuatan baik sebagai upaya membina diri agar akhlak diri terbina dari berbagai dimenasi, tentu pasca Ramadan –Syawal dan bulan seterusnya, pola tempaan pembinaan diri akan tercetak dalam laku keseharian.

Inilah yang dimaksud puasa sebagai sarana mempercantik akhlak diri. Sebab, ia menjadi tempat untuk betul-betul berusaha melatih diri, untuk melakukan aneka kebaikan. Ketika sudah terbiasa, akan terus berlanjut kecantikan akhlaknya.

Akhirnya, ketika akhlak diri sudah cantik, maka upaya memberi kritik sosial sebagaimana lead tulisan atas, adalah bentuk mendidik masyarakat bila budaya yang dilakukan adalah konsumeristik dengan sedikit beli, beli dan membeli, tanpa mau berusaha mencoba menggunakan skill untuk menghasilkan sesuatu, adalah bagian dari menularkan sedikit pengetahuaun kepada sesama.

Semoga Allah Swt, beri kemanfaat tulisan ini kepada sesama. Amin.


25 Ramadan 1447 H/15 Maret 2026 M

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Baik Diri untuk Sosial"