Pulang Kerja Belakang
![]() |
| grafis.aw |
Kala puasa, saya terbiasa pulang belakang meski menjadi Kepala Perpustakaan Unugiri. Yang pasti, saya ingin memastikan bila barang-barang kembali setelah digunakan.
Kursi duduk membaca yang kembali lagi, meja pelayanan yang tertata rapi dan bersih, hingga terkadang saya lakukan vacuum karpet sendiri, guna menanggulangi bilamana ada sisa makanan yang tercecer.
Senang saja pulang belakang. Sebab, saya bisa membaca buku, menulis, meski terkadang yang tertuang hanya satu baris.
Dari sini saya sadari, bila menulis secara baik butuh proses. Dari kata per kata yang diketikkan. Dari kalimat ke kalimat, sehingga menjadi satu paragraf, dua, tiga dan seterusnya.
Terkadang, agar konsisten menulis, ada saja aral yang melintang. Yang paling menggerus waktu menurut saya adalah asyik mendelengi gadget.
Bila hal itu –mendelengi gadget telah dilakukan, tak terasa tiba-tiba saja sore, lalu tengah malam, bahkan pagi ketemu pagi kembali.
Penonton
Pelu sedikit saya jelaskan, kala kita –saya maupun pembaca, asyik mendelangi gadget, kita seperti pasif. Ora mek opo-opo dalam bahasa Jawa-nya.
Sekadar ngakak bila itu lucu, terharu hingga meneteskan air mata bila kisah yang dilihat menyedihkan.
Padahal, aktivitas itu terbalik dengan yang kita tonton. Kreator aktif menyuguhkan konten di mana kita “adalah” penonton yang pasif.
Sehingga, saking banyaknya konten kreator yang kini muncul, saat kita scroll satu, akan muncul berikutnya. Selanjutnya, begitu terus hingga tidak terasa waktu berjam-jam habis untuk sekadar menonton.
Jika demikian, menulis itu mengajar kita untuk tidak sekadar menjadi penonton. Dalam hal ini pembaca setia. Lebih dari itu adalah pencipta ide-ide, yang kadang saat kita melihat manusia melenceng dari jalan lurus hingga kebangeten.
Alhasil, meski hanya beberapa paragaf, kita perlu menulis agar menjadi terbiasa. Maksudnya, dalam sehari ada jam khusus yang kudu diplotingkan untuk menulis, tidak untuk ditiadakan.
Selain itu, juga dalam rangka menghargai ide pikiran. Kadang, kita terlalu terbuai dengan pikiran seseorang. Tetapi, tidak kemudian mencoba meniru apakah kita bisa se-brilian pikiran orang yang kita sanjung!
Padahal, bila kita mau mencoba menghargai ide pikiran kita dengan cara menuliskannya, hasilnya pun bisa 11-12 dengan orang yang kita sanjung. Bahkan, bisa saja lebih dari itu.
So, ada ide, tulis. Mungkin dengan cara pulang kerja belakangan itulah, ide yang muncul diselesaikan sebagai waktu kontemplasi sebelum akhirnya bertemu keluarga.
2 Ramadan 1447 H/20 Februari 2026 M

Posting Komentar untuk "Pulang Kerja Belakang"