Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngamankan Data, Sekalian Muhasabah

grafis.aw

Ada pengalaman inspiratif dari teman –jurnalis, perihal penyimpanan dokumen foto. Nama teman saya itu adalah Parto Sasmito. Saya kalau memanggil beliau, biasa dengan Mas Parto. Beliau kini, menjadi Kepala Biro (Kabiro) media online https://nawacita.co/ Bojonegoro.

Perihal pengalaman empiris yang diceritakan kepada saya, beliau menggunakan blogger yang free kapasitas, untuk menyimpan foto-foto hasil liputan, pribadi, dan sebagainya di personal blog yang dibuat. 

Trik beliau, blog yang dibuat dari akun google tersebut tidak untuk public, melainkan diprivasi. Alhasil, yang bisa membuka hanya si pemilik saja yang punya gmail. 

Apa yang beliau lakukan, bagi saya inspiratif. Saya dan mungkin pembaca, dalam hal menyimpan dokumentasi foto –serta mungkin video, masih mengandalkan memori gadget, hardisk –internal-eksternal, laptop ataupun PC, kemudian juga drive gmail yang free dan premium.

Jika menggunakan memori gadget, maupun hardisk, tentu saya dan pembaca wes due segudang pengalaman. Seringkali, oleh sebab gadget hilang atau rusak, dokumen foto tidak bisa terselamatkan. Kemudian, bila disimpan melalui hardisk, flesdisk, juga rawan virus hingga kemudian menjadikan lose data (data hilang) terulang.

Hal lain, untuk membuka file –saat laptop, PC, tidak dibawa; dokumentasi yang kita butuhkan saat itu juga tidak akan terwujud. Berdasar pengalaman kecil dan inspiratif mas Parto saat ngopi di Warung KUA, Minggu (25/01/26), saya jadi punya ide untuk menata dokumentasi foto yang saya hasilkan, lalu disimpan di blogger khusus yang privat.

Lembaga Pendidikan

Pengalaman menyimpan dokumentasi sebagaimana di atas, rencana akan saya jadikan testimoni saat saya akan mengisi pelatihan menulis berita langsung di MA Islamiyah Malo Bojonegoro, Kamis (29/01/26).

Kehadiran website –yang sudah dimiliki oleh Maisma, perlu di update. Salah satu tujuannya guna mempermudah penemuan, penggalian data –teks, foto, saat diperlukan cepat. Utamanya, kala akan mempersiapkan akreditasi madrasah atau sekolah.

Kemarin Sabtu (24/01/26), kala ngisi acara di Maisma, teman dosen di Prodi PAI Unugiri Ibu Zumrotul Fauziah, menuturkan bila pengalaman mborang kala prodi akan akreditasi mudah ditemukan di website. Sebab, berita prestasi –dosen dan mahasiswa, sudah ter-record di website resmi prodi.

Saat mborang, tinggal kemudian mencari file utuhnya –teks dan fotonya, yang sudah terolah dengan baik. Begitulah penuturan beliau kala jeda mendampingi peserta pelatihan yang tengah menjalankan praktik workshop.

Perlu Hindari

Berdasar hal di atas, seiring dengan kecanggihan teknologi kini, kita juga harus manfaatkan sebesar-besarnya untuk mempermudah aktivitas. Apapun pekerjaannya. 

Bahkan Mahatma Gandhi, yang dicuplik Fahruddin Faiz dalam buku barunya ‘Seni Menyikapi Hidup: Rahasia Melampaui Diri Sendiri’ (2025:149), kita diminta menghindari teknologi manakala terdapat karakter-karakter sebagai berikut.

Pertama, teknologi yang menyenangkan diri sendiri atau kelompok tertentu, dan menjadi bencana bagi orang lain. Kategori ini, jangan menjadikan saya dan pembaca terbuai, hingga lalai terhadap tanggung jawab dunia-ukhrowi. Oleh sebab, terpenuhinya kepentingan sempit, puasnya diri, serta suksesnya kelompok tertentu. 

Kedua, teknologi yang membuat saya dan pembaca lupa-hingga tidak beraktivitas sama sekali. Pemahaman yang kedua ini jelas, kehadiran teknologi malah membikin kita malas. Sehingga, saben waktu –dalam sehari, habis di depan layar gadget, laptop, hingga PC, demi hajat ngeslot –sebagai misal, atau game online.

Ketiga, teknologi yang membuat saya dan pembaca mengalami disorientasi (salah arah) dalam menggapai kesuksesan hidup. Sebagai misal, dulu sebelum ada google, gadget, saya dan pembaca rajin membaca buku, dan menyiapkan waktu khusus untuk belajar –selepas isya, sebagai misal. 

Namun setelah ada google dan gadget yang selalu digenggaman tangan, saya dan pembaca tidak pernah lagi membaca. Membaca 10 menit, tapi melihat gadget balas dendamnya setengah hari. Jika ada ‘perubahan perilaku’ seperti itu, mari waspada, kata Ghandi.

Keempat, teknologi yang menuntun saya dan pembaca untuk melakukan perbuatan yang kurang terpuji. Dalam bahasa Gandhi, memperkuat diri dalam sisi kegelapan. Sehingga kehadiran teknologi, digunakan melakukan hal buruk atau menelurkan kebiasaan negatif.

Kelima, teknologi yang membuat saya dan pembaca berubahnya citra dan identitas diri. Semula –saya dan pembaca, dikenal sebagai pribadi yang sopan, ramah, peduli. Lalu oleh sebab teknologi, berubah menjadi cuek, individualis, dan hanya mencari kenyamanan sendiri.

Berdasar lima hal di atas, Gandhi, ingin menegaskan kepada saya dan pembaca, bila kehadiran teknologi tidak sepenuhnya bisa kita rayakan begitu saja tanpa pertimbangan-pertimbangan di atas, yang akan membawa kemadorotan.

Semua pertimbangan tersebut, agar saya dan pembaca tetap menjadikan teknologi sebagai sarana kemajuan kita sebagai manusia yang berpikir, bukan malah sumber kemunduran kawan.

: Usman Roin
: Usman Roin (Dosen PAI Unugiri)

Posting Komentar untuk "Ngamankan Data, Sekalian Muhasabah"