Perilaku Lupa Mencatat
![]() |
| grafis.aw |
Terdapat cerita menarik. Yakni, saat saya menerangkan materi pembelajaran, di mana slide-nya sudah saya persiapkan berbantu Canva. Materi yang sudah saya save pdf, kemudian file-nya saya insert-kan ke weblog usmanroin.com.
Ketika mahasiswa saya kirim link –webblog saya, mahasiswa konsentrasinya melihat slide materi dan menutup buku. Bahkan, beberapa kursi mereka, saya lihat tidak ada alat tulis –buku sama sekali, untuk mencatat.
Sebagai pembuka pembelajaran yang kebetulan temanya menulis berita, saya jelaskan nilai penting mangapa perlu kita pelajari. Mulai yang pertama, bila materi menulis berita adalah fondasi dasar, untuk bisa menulis genre kepenulisan jurnalistik.
Kedua, peristiwa dan kegiatan selalu kita saksikan. Bahkan, kalian –bilang saya kepada mahasiswa, juga mengalami. Hanya saja, aneka peristiwa dan kegiatan yang berlangsung tidak terdokumentasi baik teks, foto, video.
Karenanya, mempelajari kepenulis berita langsung, agar peristiwa dan kegiatan yang terjadi, kita miliki dokumentasinya. Tidak menguap dan berlalu begitu saja. Sehingga, saat dibutuhkan, atau kita memerlukan untuk kebutuhan success story, bukti tersebut mudah kita tunjukkan.
Adapun yang ketiga, menulis berita langsung memiliki kontribusi terhadap kepenulisan karya ilmiah –skripsi, makalah; agar isinya tidak plek sebagaimana teks aslinya. Melainkan, dilakukan parafrasa atau mengurai kembali suatu teks dalam redaksi yang berbeda.
Lali (Lupa)
Ketika tiga tujuan mengapa mahasiswa belajar kepenulisan berita langsung saya hubungkan dengan rumus menulis berita pada huruf “Why”, yang berarti mengapa kegiatan itu dilakukan, atau motif sebuah peristiwa terjadi; lalu saya tanyakan tiga hal di atas sebagai landasan pembelajaran, mereka jadi lali atau lupa.
Ketika saya tanya selama tiga kali, baru muncul satu demi satu jawabannya. Dan itu, karena si mahasiswa mencatat apa yang disampaikan oleh saya –sebagai dosen pengampu, di luar slide yang sudah saya persiapkan.
Kepada mahasiswa saya sampaikan, bila kita memiliki kelemahan dalam daya ingat, mencatatlah. Anehnya, mereka nyaman dengan mendengarkan keterangan materi saya sambil scroll ke atas dan bawah.
Tetapi, luput untuk juga menulis keterangan lain dan itu penting di luar slide yang dipersiapkan.
Kata mutiara Islam Arab mengatakan “Al-‘ilmu soidun wal kitabatu qoiduhu qayyid suyudaka bil hibalil watsiqati”. Yang artinya, ilmu itu ibarat buruan, dan tulisan itu ibarat talinya. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Jika mencermati kata mutiara di atas, Ketika saya melakukan review materi yang baru diterangkan, kemudian saya hubungkan dengan slide materi berikutnya dan kemudian mahasiswa pada bingung mau jawab apa kala saya melakukan dialog, di situlah pentingnya mencatat.
Mencatat adalah sarana untuk mengikat pengetahuan yang sudah dijelaskan sama saya panjang lebar. Jika kemudian mereka luput bin lali mencatat, maka ilmu itu akan hilang dengan indikator (tanda-tanda) blank. Tidak tahu mau menjawab apa.
Dari peristiwa di atas, saya kemudian menyampaikan, bila fakta empiris yang barusan terjadi, bisa dijadikan pelajaran berharga bila mencatat ilmu itu penting.
Lha wong mengikat buruan dengan tali yang kuat adalah hal yang kudu dilakukan agar –buruan, tersebut tidak hilang, apalagi ilmu!
Sebagai alasan tambahan, Ketika saya membaca karya buku Syamsa Hawa dan Irawan Senda berjudul “88 Kiat menjadi Penulis Hebat” (2011:46), cara menemukan ide menulis salah satunya adalah mencatat apa saja yang kita anggap menarik.
Di halaman berikutnya penulis memperjelas, diantara hal-hal menarik yang perlu dicatat antara lain peristiwa –bencana, kebakaran; tempat –yang ikonik; orang, dari sisi kebiasaannya, karakter, adat istiadat.
Ada lagi benda alam –gunung, gua, sendang dan lain; benda hasil kreativitas manusia –mulai dari asesoris, perhiasan dan seterusnya; hingga keilmuan yang disampaikan pendidik.
Atas peristiwa yang terjadi dan mereka sendiri yang mengalami, barulah kemudian pada sadar untuk mencatat, mengapa mahasiswa perlu membuat catatan di luar dari materi yang telah disiapkan pendidik!
Dalam analogi penulis, itu sebagai syarah (penjelas) poin-poin materi. Apalagi, pada slide itu hanya poin-poin saja materi yang disiapkan.
Jika kemudian tidak ditulis –penjelasnya, tentu poin materi yang dimaksud tidak bisa dipahami dengan baik.
Alhasil, apakah mereka –mahasiswa, mau pulang dengan pemahaman yang tidak bisa dicerna? Abstrak!

Posting Komentar untuk "Perilaku Lupa Mencatat"